Senin, 09 Mei 2016

kirab ruwahan sarangan

Ruwahan Sarangan adalah  tradisi bersih desa yang telah berlangsung  puluhan tahun silam. Kegiatan tersebut dilakukan pada bulan "ruah" pada penanggalan Jawa. Hari pelaksanaan Ruwahan Sarangan ditentukan pada hari Jum'at pon. Acara tersebut dimulai pada malam menjelang hari yg telah di tetapkan tersebut( malam jum'at). Diawali dengan penyembelihan kambing sebagai bahan masakan yang akan di suguhkan ketika menyambut maayarakat yang menghadiri prosesi ritual dan acara hiburan rakyat tersebut.Acara hiburan rakyat tersebut biasanya berlangsung sampai tengah malam. Dalam hiburan tersebut di tampilkan seni budaya tradisional dari masyarakat desa Sarangan dan dari kelompok hiburan daerah lain. Tari Gambyong,Tayub,/Ronggeng dan lagu-lagu Jawa. Pada esok pagi hari acara utama akan dilaksanakan dengaan berbagai kegiatan. Masyarakat desa sejak pagi hari telah menyiapkan nasi Panggang Tumpeng yang telah ditata rapi pada wadah anyaman dengan diselipkan satu sisir buah pisang yang ranum. Makanan tersebut lalu di kemas dengan selembar kain agar tampak rapi dan mudah dibawa. Para anggota keluarga berangkat bersama-sama menuju ke Telaga Pasir dengan wajah ceria membawa nasi Panggang Tunpeng yang sudah di siapkan tadi. Mereka berduyun duyun berkumpul di sebuah tempat yang disebut " punden' yaitu tempat perhentian terakhir dari rangkaian acara Ruwahan Sarangan tersebut.Barang bawaan Nasi Panggang Tumpeng tersebut diletakkan di sisi utara punden tersebut ditata dengan rapi. Walau jumlahnya ratusan nasi Panggang Tumpeng itu dapat di tata rapi oleh petugas yang menanganinya.Sementara itu para keluarga itu menunggu kedatangan kirab barisan seni tradisional Reog. Kirab barisan seni tradisional Reog di mulai dari Mandoran( lingkungan Sarangan). Irama gamelan reog tersebut sebelumnya telah ditabuh dan dimainkan beberapa saat sebelum pemberangkatan untuk menggugah semangat dimulainya acara Ruwahan Sarangan tersebut. Sehingga dapat mensugesti dan memacu adrenalin para pemain pemainnya dengan sesekali teriakan teriakan pengobar semangat. Kira-kira waktu menunjukkan jam 8 pagi kirab Reog mulai berangkat meninggalkan Mandoran sebagai pentas pembuka. Dalam perjalanannya nenuju punden Kirab Reog tersebut, akan menampilkan gerakan-gerakan tari yang memiliki gerakan lentur tapi penuh tenaga dengan gaya sebagai kesatria yang mempesona. "Inilah sebenarnya yang membedakan seni Reog tiap-tiap daerah,yaitu pada pesona gerak dan tari tersebut" kata mbah Kawok. Jadi menurut dia ciri khas Reog di sini cenderung menampilkan pamor kesatriaan dan perbawanya, bukan menampilkan kekuatan dan keangkerannya.( wee....reog flamboyan) Maka dari itu bila rombongan kirab melewati sebuah persimpangan maka dia akan beraksi menebar pesona.
Dibarengi pula dengan barisan warga yang mengenakan pakaian Tradsisional( kejawen) beriring rapi dengan khidmat. Ada pula barisan kuda. Kuda yang digunakan biasanya dipilih yang berwarna putih. Dalam kelompok tersebut di panggul sebuah tumpeng yang besar sebagai simbol kemakmuran dan di hiasi dengan berbagai hasil bumi lainnya. Ketika rombongan kirab Reog telah sampai di punden tersebut, maka tumpeng besar tersebut di bawa perahu untuk dibawa ke tengah Telaga Pasir untuk di larung. Dan pada saat yang sama pula para warga yang menyaksikan larung sesaji tersebut mengambil Nasi panggang tumpeng mereka masing masing untuk dimakan bersama-sama keluarga dan di bagi-bagikan ke warga lain yang berada disekitar acara tersebut. Dengan gembira para warga tersebut mencari tempat yang nyaman untuk menikmati masakannya. Sembari menikmati nasi Panggang Tumpeng musik hiburan tradisional juga sudah mulai dimainkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar